Utang yang Tidak Pernah Tidur
Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Bukan sekadar gelap karena listrik di gangku sering redup, tetapi gelap yang seperti menekan dada. Angin malam merayap lewat celah jendela kontrakan yang setengah lapuk, membawa suara anjing menggonggong dari kejauhan. Aku duduk sendirian di lantai ruang tamu yang sempit. Lampu kuning yang menggantung di langit-langit berkedip-kedip seperti napas yang hampir putus. Di depanku, ponselku menyala. Ada puluhan pesan. Semua dari nomor yang berbeda. Semua dengan nada yang sama. “Bayar utangmu.” “Kami tahu alamatmu.” “Jangan sembunyi.” Tanganku gemetar ketika membaca satu pesan terakhir. “Malam ini kami datang.” Aku memejamkan mata. Semuanya bermula dari satu keputusan bodoh. Dua juta rupiah. Saat itu ibuku sakit dan aku tidak punya pilihan lain. Bank menolak. Teman-teman menghilang. Aplikasi pinjaman online muncul seperti malaikat penyelamat. Prosesnya mudah. Terlalu mudah. Foto KTP. Foto wajah. Klik setuju. Uang cair. Tapi yang tidak kutahu ...