Ilustrasi foto Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia. Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan. Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan. Namanya Alya . Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit. Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak: Alya bukan hanya milikku untuk didoakan. Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri— Rizal . Imam mengangkat tangan. “Allahu Akbar.” Aku ikut mengangkat tangan, ta...
Foto Cerita PIlustrasi endek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah Aku menuliskan kisah ini bukan untuk mencari simpati, melainkan agar ingatanku punya tempat beristirahat. Karena cinta yang kupendam terlalu lama berubah menjadi luka yang tak tahu cara sembuh. Dan namamu—selalu muncul di antara doa dan penyesalan. Aku mengenalmu pada malam yang dingin, ketika hujan turun seperti ingin menghapus kota. Kamu berdiri di bawah lampu jalan, wajahmu setengah cahaya, setengah gelap. Sejak saat itu aku tahu, mencintaimu akan membuatku akrab dengan kehilangan. “Kamu percaya cinta bisa menyelamatkan seseorang?” tanyamu saat pertama kali kami berbincang. Aku menggeleng pelan. “Aku percaya cinta hanya mengajarkan cara bertahan.” Kamu tersenyum getir. “Berarti kita sama-sama sudah lelah.” Aku jatuh cinta bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu retak—dan retakan itu memantulkan diriku sendiri. Aku mencintaimu dalam diam, dalam tatapan panjang, dalam kalimat-kal...