Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar
Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar https://sediksi.com/gaya-foto-di-pantai-bersama-pasangan-hijab/ Aku menulis kisah ini bukan untuk mengabarkan kemenangan, melainkan untuk mengakui kekalahan yang paling sunyi: kalah oleh perasaan sendiri. Malam itu, malam yang konon lebih baik dari seribu bulan, aku berdiri di antara dua nama—dan tak satu pun mampu kusebut tanpa gemetar. Masjid tua di ujung kampung menjadi saksi. Dindingnya kusam, karpetnya menyimpan aroma debu dan doa-doa lama. Lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang kelelahan, berpendar kuning, mengantarkan langkah-langkah kami ke dalam keheningan. Di luar, angin berembus perlahan, membawa sisa-sisa hujan sore, seolah semesta ikut menahan napas menunggu keputusan. Aku datang lebih awal. Sejak sore, hatiku tak tenang. Ada desakan aneh yang memintaku untuk mengosongkan diri, tapi justru kepalaku dipenuhi satu nama—namamu. Aku menyebutnya berulang-ulang dalam batin, bukan sebagai mantra, ...