 |
| Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam |
Aku tidak pernah benar-benar keluar dari pesantren itu.
Tubuhku memang pulang, tapi pikiranku masih duduk bersila di lantai ndalem, menunggu namaku dipanggil dengan suara yang tak pernah meninggi—karena yang paling mematikan memang tidak perlu berteriak.
Aku datang ke sana dengan keyakinan utuh bahwa iman adalah perlindungan. Bahwa orang yang dipanggil kiai adalah perantara cahaya. Aku menyerahkan diriku seperti seseorang menyerahkan kunci rumah pada penjaga yang katanya tak pernah tidur.
Hari pertama, aku belajar tunduk.
Hari kedua, aku belajar patuh.
Hari-hari berikutnya, aku belajar meragukan perasaanku sendiri.
“Perempuan itu harus kuat menahan,” kata seorang ustazah saat pengajian.
“Menahan apa, Ustazah?” tanya santri lain.
“Menahan diri. Menahan prasangka. Menahan bisikan setan.”
Aku mencatat kalimat itu. Aku belum tahu, suatu hari kalimat itu akan digunakan untuk mengurungku dari dalam.
Ketika namaku pertama kali dipanggil ke ndalem, aku merasa terpilih. Dipilih berarti istimewa. Istimewa berarti dipercaya. Begitulah logika yang ditanamkan pelan-pelan, seperti racun yang dicampur madu.
“Kamu terlihat tenang,” katanya.
Aku menunduk.
“Tenang itu tanda hati bersih. Orang seperti kamu cocok memikul amanah.”
Amanah.
Kata itu diulang-ulang sampai kehilangan bentuk. Sampai aku tak bisa lagi membedakan mana perintah, mana jerat.
Setiap percakapan selalu dimulai dengan doa dan diakhiri dengan dalil. Di tengahnya, ada ruang abu-abu tempat pikiranku dipatahkan sedikit demi sedikit.
“Kalau kamu merasa takut,” katanya suatu malam, “itu berarti imanmu sedang diuji.”
“Kalau kamu bercerita,” katanya di malam lain, “itu berarti kamu belum ikhlas.”
Aku mulai membenci kata ikhlas.
Karena setiap kali aku tidak sanggup, kesalahan selalu kembali padaku.
Aku bertanya pada diriku sendiri, berulang-ulang, seperti orang gila yang berharap jawaban berubah jika diulang lebih keras:
Mungkin aku yang salah?
Mungkin perasaanku yang kotor?
Mungkin aku memang tak pantas dipercaya?
Gaslighting tidak datang seperti badai. Ia datang seperti kabut. Pelan. Tipis. Tapi menutup seluruh pandangan.
Suatu malam aku berkata, hampir berbisik:
“Yai, saya tidak nyaman.”
Beliau tidak marah. Tidak pula membentak.
Beliau tersenyum—dan senyum itu lebih menakutkan dari teriakan.
“Ketidaknyamanan adalah pintu kedewasaan,” katanya.
“Kamu mau dewasa, kan?”
Aku mengangguk. Aku selalu mengangguk.
Mengangguk adalah caraku bertahan hidup.
Aku mulai bermimpi buruk. Dalam mimpiku, aku duduk di masjid tanpa pintu. Semua orang membaca kitab, tapi setiap huruf berubah menjadi mata yang menatapku. Aku ingin menjerit, tapi suaraku tertelan ayat-ayat yang dilafalkan tanpa rasa.
Pagi harinya, Fatimah memegang lenganku.
“Kamu gemetar.”
“Aku hanya kedinginan.”
“Ini pesantren, Isyah. Kamu tidak pernah kedinginan.”
Aku ingin bilang: aku membeku dari dalam.
Tapi lidahku mengkhianatiku.
Aku mencoba mencari pertolongan dengan cara paling aman: bertanya tanpa menyebut nama, mengadu tanpa menuduh.
“Kalau amanah membuat seseorang merasa hancur, apakah itu masih amanah?” tanyaku pada ustazah pengasuh.
Beliau menatapku lama, seolah menimbang kadar imanku.
“Hancur itu bagian dari dibentuk,” jawabnya.
“Tanah harus dipijak keras agar bisa ditanami.”
Aku keluar ruangan itu dengan satu kesimpulan mengerikan:
tidak ada ruang bagi lukaku untuk diakui.
Malam-malam berikutnya, aku mulai menghitung langkah menuju ndalem seperti orang menuju tiang gantungan. Aku belajar memisahkan tubuh dan pikiranku. Tubuhku hadir, pikiranku pergi jauh—ke rumah, ke ibu, ke masa kecil sebelum kata amanah berubah menjadi pisau.
“Kenapa kamu murung?” tanya Fatimah suatu malam.
“Kalau aku bercerita, kamu akan percaya?”
Dia terdiam.
“Aku santri juga, Isyah. Aku takut salah percaya.”
Kalimat itu memutus harapan terakhirku.
Aku sadar: sistem ini tidak membutuhkan monster.
Ia hanya butuh orang-orang baik yang terlalu takut untuk salah.
Ketika akhirnya aku menolak dipanggil, hukumannya bukan fisik. Hukuman paling kejam selalu bersifat simbolik.
Namaku disebut dalam pengajian.
Tidak sebagai korban.
Tapi sebagai contoh.
“Kesombongan adalah penyakit santri,” kata beliau.
“Merasa paling tersakiti padahal sedang diselamatkan.”
Aku duduk di barisan depan. Semua mata menusuk.
Aku merasa telanjang, bukan karena tubuhku—tapi karena narasi tentang diriku telah direbut.
Malam itu aku muntah. Bukan karena sakit, tapi karena tubuhku menolak kepura-puraan lebih lama.
“Aku ingin pulang,” kataku pada Fatimah.
“Kamu yakin? Orang-orang akan bertanya.”
“Biarlah,” jawabku. “Aku sudah terlalu lama menjawab pertanyaan yang bukan salahku.”
Pulang bukan berarti sembuh.
Di rumah, aku tidak langsung bicara. Aku hanya duduk di kamar, menutup telinga setiap kali suara azan berkumandang. Aku takut. Bukan pada Tuhan—tapi pada ingatan.
Suatu malam, ibu masuk dan duduk di sampingku.
“Kamu tidak perlu menjelaskan dengan rapi,” katanya.
“Kamu hanya perlu jujur.”
Aku menangis seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan takut.
“Bu,” kataku di sela isak, “aku diajari bahwa kalau aku merasa hancur, itu karena imanku kurang.”
Ibu memelukku erat.
“Kalau iman membuatmu membenci dirimu sendiri,” katanya pelan,
“itu bukan iman. Itu kekerasan yang memakai bahasa suci.”
Kalimat itu menyelamatkanku lebih dari seribu ceramah.
Sekarang, aku tahu: luka paling dalam bukan berasal dari apa yang dilakukan pada tubuhku, tapi dari bagaimana pikiranku dipelintir agar menyalahkan diri sendiri. Aku diajari diam, lalu disalahkan karena diam. Aku diajari patuh, lalu dihukum ketika kepatuhan itu runtuh.
Aku masih belajar membangun ulang kepercayaanku—pada Tuhan, pada manusia, pada diriku sendiri. Kadang aku gagal. Kadang aku masih merasa najis tanpa sebab.
Tapi satu hal pasti:
Aku bukan amanah yang rusak.
Aku adalah manusia yang disakiti oleh kuasa yang tak mau diawasi.
Dan sekarang, aku memilih berbicara.
Meski suaraku gemetar.
Meski gelap belum sepenuhnya pergi.
Karena diam tidak pernah suci.
Yang suci adalah keberanian untuk mengatakan: aku terluka, dan itu bukan salahku.