Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama. Namamu. Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai. Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di...