Di Antara Takbir dan Luka
Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras. Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah. Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata. Takbir pertama dikumandangkan. Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu. Aku bela...