Postingan

Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar

Gambar
  Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar https://sediksi.com/gaya-foto-di-pantai-bersama-pasangan-hijab/ Aku menulis kisah ini bukan untuk mengabarkan kemenangan, melainkan untuk mengakui kekalahan yang paling sunyi: kalah oleh perasaan sendiri. Malam itu, malam yang konon lebih baik dari seribu bulan, aku berdiri di antara dua nama—dan tak satu pun mampu kusebut tanpa gemetar. Masjid tua di ujung kampung menjadi saksi. Dindingnya kusam, karpetnya menyimpan aroma debu dan doa-doa lama. Lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang kelelahan, berpendar kuning, mengantarkan langkah-langkah kami ke dalam keheningan. Di luar, angin berembus perlahan, membawa sisa-sisa hujan sore, seolah semesta ikut menahan napas menunggu keputusan. Aku datang lebih awal. Sejak sore, hatiku tak tenang. Ada desakan aneh yang memintaku untuk mengosongkan diri, tapi justru kepalaku dipenuhi satu nama—namamu. Aku menyebutnya berulang-ulang dalam batin, bukan sebagai mantra, ...

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Gambar
  Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama. Namamu. Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai. Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di...

BUAVITA DI TEPI KENANGAN

Gambar
  Di tepi hujan, kita duduk diam, asap napas menyatu dengan gerimis. Gelas dingin Buavita kau genggam, manisnya mengalir seperti tawa kecil. Aku menghafal detak waktu, bangku basah, lampu senja, dan caramu menatap langit runtuh. Hujan menulis ulang janji, membasuh luka yang belum bernama. Setiap teguk menyimpan musim, mengingatkanku pada rumah yang tumbuh di antara bahu kita. Jika hujan kembali, biarlah kenangan ini menjadi payung paling setia. Di bawah payung patah, kita belajar percaya, bahwa sederhana bisa abadi, bahwa hujan memilih saksi, dan kenangan tak pernah menua. namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum dalam hujan yang setia

Pesona Gadis Desa yang Mencari Laki-Laki Setia

Gambar
Ilustrasi foto Pesona Gadis Desa yang Mencari Laki-Laki Setia https://pixabay.com/id/photos/putih-hitam-wanita-gadis-rakyat-3800874/ Aku adalah perempuan desa yang tumbuh bersama doa-doa subuh dan tanah basah. Di tempat ini, orang mudah mengenal namamu, tapi lebih mudah lagi menghakimimu. Aku belajar satu hal sejak kecil: cinta yang paling berbahaya bukan yang tidak dibalas, melainkan yang dipelintir oleh kepalsuan. Aku bertemu kamu ketika aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Kamu datang dari kota tetangga, membawa tas hitam, wajah letih, dan aroma debu proyek. Orang-orang bilang kamu hanya admin proyek—bukan mandor, bukan insinyur, bukan siapa-siapa yang patut dibanggakan. Tapi caramu duduk diam, caramu mendengarkan, membuatku percaya: lelaki tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kesetiaannya pulang. “Kamu tidak bosan bekerja jauh?” tanyaku suatu sore. Kamu tersenyum tipis. “Bosan itu hak orang yang punya pilihan. Aku bekerja karena aku ingin hidup jujur.” Kalimat itu menemp...

Utang yang Tidak Pernah Tidur

Gambar
  Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Bukan sekadar gelap karena listrik di gangku sering redup, tetapi gelap yang seperti menekan dada. Angin malam merayap lewat celah jendela kontrakan yang setengah lapuk, membawa suara anjing menggonggong dari kejauhan. Aku duduk sendirian di lantai ruang tamu yang sempit. Lampu kuning yang menggantung di langit-langit berkedip-kedip seperti napas yang hampir putus. Di depanku, ponselku menyala. Ada puluhan pesan. Semua dari nomor yang berbeda. Semua dengan nada yang sama. “Bayar utangmu.” “Kami tahu alamatmu.” “Jangan sembunyi.” Tanganku gemetar ketika membaca satu pesan terakhir. “Malam ini kami datang.” Aku memejamkan mata. Semuanya bermula dari satu keputusan bodoh. Dua juta rupiah. Saat itu ibuku sakit dan aku tidak punya pilihan lain. Bank menolak. Teman-teman menghilang. Aplikasi pinjaman online muncul seperti malaikat penyelamat. Prosesnya mudah. Terlalu mudah. Foto KTP. Foto wajah. Klik setuju. Uang cair. Tapi yang tidak kutahu ...

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

Gambar
  Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram. Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku. Pesan itu datang lagi. “MALAM INI ATAU KAMI DATANG.” Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit. “Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?” Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan. Tujuh ha...

Di Antara Takbir dan Luka

Gambar
  Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras. Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah. Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata. Takbir pertama dikumandangkan. Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu. Aku bela...