Langsung ke konten utama

Postingan

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...
Postingan terbaru

Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik

ilustrasi Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik_xni Di tepi senja yang merona jingga, kulihat engkau, Siti Puji Astutik, berdiri dengan tatapan yang dalam, seolah mencari jejak cinta sejati yang masih tersembunyi di antara awan. Langkahmu lembut, tapi hatimu gelisah, kau menanti seseorang yang belum tentu tiba, seperti burung yang terus terbang mengejar cahaya terakhir sebelum malam. Aku ingin berkata padamu, bahwa dunia ini memang panas, terlalu terik , namun untukmu yang terlalu cantik , setiap keringat menjadi puisi, setiap luka berubah menjadi rindu. Siti, gadis senja yang menawan, biarlah aku yang menemanimu mencari, agar cinta sejati tak lagi hanya mimpi, tapi nyata dalam dekap yang abadi.

Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namaku Tak Pernah Ada di Doanya

  ilustrasi foto_Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namaku Tak Pernah Ada di Doanya Cerpen Romantis oleh Fiqi Andre Hujan sore itu turun tanpa permisi. Rintiknya deras, seolah ingin menyapu jejak langkah yang pernah kami buat bersama. Di halte kecil yang sudah lapuk oleh waktu, aku berdiri sambil memeluk tubuhku sendiri. Bukan karena dingin, tapi karena dia belum juga datang. Namanya Asha. Perempuan yang membuatku percaya bahwa cinta tidak selalu harus dibalas untuk bisa hidup. Kami berteman sejak SMA. Ia ceria, penuh tawa, dan selalu punya cerita lucu setiap hari. Sedangkan aku? Hanya bayangan setia di belakangnya. Menjadi pendengar, penonton, dan pelindung diam-diam saat dunia terlalu kejam padanya. “Aku putus lagi, Ki,” katanya dulu, di halte yang sama, di bawah hujan yang juga sama. Waktu itu, ia menangis di pundakku. Aku tidak berkata apa-apa, hanya membiarkannya menumpahkan semua air matanya di jaket lusuhku. “Aku bodoh, ya?” “Enggak. Kamu cuma terlalu percaya,” jawabku lirih...

Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat

dokumentasi demo_Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat  kompas.com Pati, Jawa Tengah — Gelombang protes warga Pati kini menjadi sorotan nasional setelah viralnya video dan dokumentasi aksi penolakan terhadap kenaikan pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga 250 persen . Ratusan warga dari berbagai desa turun ke jalan, membawa poster dan spanduk yang mencerminkan satu suara: "Kami tidak menolak bayar pajak, tapi tolong jangan aniaya kami dengan kebijakan sewenang-wenang!" Kenaikan pajak yang dianggap tidak masuk akal ini memicu kegelisahan besar di kalangan masyarakat, terutama petani, pedagang kecil, buruh, dan pemilik rumah sederhana. Banyak dari mereka mengaku kaget ketika menerima surat pemberitahuan pajak terbaru, dengan nominal yang tiga kali lipat lebih besar dari tahun sebelumnya. Realitas di Lapangan Tak Seindah Kertas Rencana Ironisnya, meski pemerintah daerah berdalih bahwa kenaikan pajak ini untuk "peny...

"Senja dan Kerudung Merahmu"

  puisi romantis_"Senja dan Kerudung Merahmu" Di ujung langit, mentari menggantung malu-malu, melukis jingga di permukaan langit yang berdoa, dan di sanalah aku pertama kali melihatmu— Siti Puji Astukik, gadis berkerudung merah yang datang seperti doa yang tak pernah selesai kusebutkan namanya. Langkahmu lembut seperti desir angin sore, dan matamu, ah matamu… merekah teduh seperti langit yang tak ingin gelap. Kerudung merahmu menari pelan menjadi bendera sunyi yang menggetarkan dada. Siti, tahukah kau, senja menjadi tempat paling setia kutitipkan rindu? Pada setiap langit merahnya, ada namamu yang kusisipkan dalam bait-bait puisi, ada wajahmu yang kupahat dalam detak jantung yang tak tahu caranya berhenti saat kau tersenyum. Aku mencintaimu dengan tenang, seperti laut mencintai langit, tak pernah bersentuhan, tapi saling menunggu senja. Aku mencintaimu diam-diam, seperti bayangan mencintai cahaya, selalu ada, tapi tak pernah bisa mengakuinya. Siti Puji Astukik, engkau bu...

"Gadis Senja: Peluk yang Tak Pernah Usai"

"Gadis Senja: Peluk yang Tak Pernah Usai" gadis senja puisi ini tercipta dari ilustrasi siti yang sedng bersanding di antara gelapnya malam Kau datang bersama jingga yang jatuh pelan di langit barat, membawa wajah yang lebih indah  dari segala yang pernah kulihat. Langkahmu lembut menapak tanah, seakan bumi pun bersyukur kau hadir, dan aku, lelaki yang hanyut dalam detik, hanya bisa menatap—gemetar, tanpa kendali. Kau gadis senja, yang membuat matahari rela perlahan turun demi menatapmu lebih lama. Angin berhenti berhembus, burung-burung pun memilih diam, karena tak ada nyanyian yang bisa menyaingi bisikanmu. Kata-katamu tak pernah keluar dari bibir, tapi getarnya sampai ke dasar dadaku. Tiap lirikanmu membuat detak jantungku menjadi gila, dan senyummu—astaga, senyummu itu seperti jampi, yang membuatku tak tahu mana nyata, mana mimpi. Dalam warna langit yang mulai kelam, akulah lelaki yang rela menjadi bayang-bayangmu, menemanimu meski tanpa sentuhan, menyayangimu meski t...

Cerita Pendek:Bendera yang Berkibar di Antara Kita

  Cerita Pendek:Bendera yang Berkibar di Antara Kita  https://www.kibrispdr.org/unduh-4/foto-pacaran-romantis-banget.html Agustus kembali datang, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di kampungku, Agustusan selalu menjadi momen ramai yang mempersatukan. Anak-anak lomba balap karung, ibu-ibu masak tumpeng, dan pemuda-pemudi sibuk mengurus panggung hiburan. Tapi tahun ini, ada yang berbeda. Hatiku, yang biasanya tenang, kini bergetar hebat—sejak aku tahu kau akan datang, dan dia juga. Kau, perempuan dengan mata tajam yang menyimpan rahasia. Dia, sahabat kecilku yang selalu kupanggil "teman baik", walau hatiku berkata lain. Dan aku? Aku hanya lelaki kampung yang menyimpan cinta dalam diam. Hari itu, langit bersih. Panitia sibuk mempersiapkan lomba tarik tambang. Aku yang bertugas membagi air mineral, tak henti menatap kalian berdua. Kau tertawa dengan dia—Raka, sahabatku. Kau tampak nyaman bersamanya. Tapi ada sesuatu di sorot matamu saat sesekali melirik ke arahku. Sesuatu ya...